http://bacaberita.info/
HOME I NASIONAL I INTERNASIONAL I EKONOMI I OLAHRAGA I HIBURAN I IPTEK I INDEKS

Dinosaurus Mungil dengan Sayap Mirip Kelelawar

Options

INILAHCOM, Beijing - Sebuah fosil dinosaurus berukuran kecil ditemukan di kawasan Barat Laut China. Fosil mungil yang berukuran tidak lebih dari seekor burung murai ini memiliki sayap mirip kelelawar, dilengkapi dengan struktur bulu yang juga mengalami fosilisasi.

Diberi nama Ambopteryx longibrachum, yang dalam bahasa latin berarti kedua sayap berlengan panjang, fosil ini diperkirakan berasal dari perioda Jurassic, sekitar 163 juta tahun lalu.

Ambopteryx longibrachum dimasukkan dalam dinosaurus bersayap mirip kelelawar, kelompok scansoriopterygid.

Fosil ini pertama kali ditemukan oleh petani lokal, yang kemudian menyerahkannya ke Chinese Academy of Sciences Institute of Vertebrate Paleontology and Paleoanthropology (IVPP) di Beijing.

Fosil ini memiliki kondisi sangat baik, dengan keberadaan sayap mirip kelelawar yang tersusun oleh membran. Fosil juga mendokumentasikan keberadaan bulu halus.

"Fosil ini hanya seukuran telapak tangan. Makhluk ini merupakan hewan kecil, berbentuk aneh, bergigi tonggos yang tidak mirip dengan hewan manapun yang hidup saat ini," ujar Jingmai OConnor, paleontolog IVPP yang meneliti fosil ini, seperti dilansir Science.

Sayap Ambopteryx longibrachum terbentuk dari tulang lengan atas (humerus) dan tulang hasta (ulna) yang memanjang. Sedangkan burung modern memiliki struktur sayap yang tersusun atas pemanjangan tulang jari (metacarpal). Hal ini menjadikannya lebih mirip kelelawar dibanding burung.

"Permukaan penghasil gaya angkat utama pada burung dibentuk oleh bulunya. Pada kelelawar, pterosaurus, dan juga scansoriopterygid, justru dihasilkan oleh lapisan kulit bermembran yang terentang antara tulang belulang di lengan," papar O'Connor.

Fosil ini juga mengawetkan isi perut hewan purba tersebut. Peneliti telah mengambil sampel tulang dan gastrolith, batuan kecil yang digunakan burung untuk mengerus material nabati yang dikonsumsinya. Temuan ini mengindikasikan bahwa Ambopteryx longibrachum merupakan omnivora.

Meski terdapat bulu halus pada fosil, namun bulu-bulu ini memiliki tekstur mirip rambut, bukan bulu untuk terbang sebagaimana pada burung modern.

OConnor juga berspekulasi bahwa bulu digunakan oleh pejantan untuk menarik perhatian betina, terutama pada bagian ekor, sebagaimana telah ditemukan di jenis dinosaurus serupa sebelumnya.

Sebelumnya, pada 2015 silam, ditemukan pula dinosaurus scansoriopterygid di kawasan Barat Laut China. Fosil yang diberi nama Yi qi tersebut memiliki bulu halus dan bersayap mirip kelelawar.

Temuan fosil baru Ambopteryx longibrachum ini mengonfirmasi bahwa masih banyak dinosaurus bersayap mirip kelelawar yang menunggu untuk ditemukan.



Sumber: Inilah.com
loading...