http://bacaberita.info/
HOME I NASIONAL I INTERNASIONAL I EKONOMI I OLAHRAGA I HIBURAN I IPTEK I INDEKS

Jokowi Umbar Sontoloyo dan Politik Kebohongan, Pengamat: Begitu Banyak yang Tidak Suka Presiden

Options

POJOKSATU.id, JAKARTA – Sontoloyo dan politik kebohongan. Dua kata tersebut menjadi populer setelah diumbar Presiden Jokowi dalam pidatonya.

Jokowi meminta para politikus menghentikan politik kebohongan. Hal ini disampaikan Jokowi saat berpidato di puncak perayaan hari ulang tahun Partai Golkar di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, Minggu (21/10/2018).

“Kita harus akhiri politik kebohongan, politik yang merasa benar sendiri, dan perkuat politik pembangunan. Politik kerja pembangunan, politik berkarya. Pembangunan bangsa sumber daya manusia yang siap bersaing di revolusi industri,” kata Jokowi dalam pidatonya.

Sementara kata sontoloyo diungkapkan Jokowi saat berpidato di Lapangan Ahmad Yani, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Selasa (23/10/2018).

Jokowi mengatakan banyak politik yang baik, tapi banyak juga politik jahat. Karena itu, Jokowi mengimbau agar masyarakat tidak menelan mentah-mentah informasi yang diterima dari para politisi.

“Itulah kepandaian para politikus, mempengaruhi masyarakat, hati-hati saya titip ini, hati-hati. Hati-hati banyak politikus yang baik-baik tapi juga banyak politikus sontoloyo,” kata Jokowi.

Kata sontoloyo dan politik kebohongan yang diumbar Jokowi mendapat tanggapan beragam dari berbagai kalangan.

Jokowi diminta untuk tidak terbawa perasaan alias baper dalam menghadapi kritik dari kelompok di luar pemerintah. Apalagi, sampai harus mengumpat dengan kata sontoloyo yang berkonotasi negatif.

“Presiden tak perlu baper, menjadi presiden adalah jalan untuk dikritik, begitu banyak yang mencintai, begitu banyak yang nggak suka sama presiden, itu adalah kuadrat alamiah,” ujar pengamat politik Pangi Syarwi Chaniago dalam keterangan tertulis yang diterima, Senin (29/10).

Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting  itu mengatakan, jika Jokowi bisa lebih tenang dan kalem dalam menghadapi kritik, maka umpatan sontoloyo tidak akan keluar. Sebab, ungkapan ini justru akan merugikan dirinya sendiri.

Sikap tenang, sambung Pangi, juga akan melahirkan kejernihan berpikir bagi Jokowi, sehingga bisa menyikapi kritik dengan lebih arif dan rasional. Apalagi, kritik dalam iklim demokrasi adalah hal yang lumrah.

“Jika kita melihat latar belakang keluarnya kata sontoloyo oleh presiden semakin menunjukkan bahwa adanya kerancuan berpikir, di mana ada politisi yang alergi dengan kata politik dan politisasi,” jelasnya.

Incumbent tidak perlu panik menghadapi kritik jika memang merasa telah bekerja maksimal untuk rakyat.

Pangi memastikan, rakyat tidak akan mudah terprovokasi dengan kritik yang menyesatkan. Untuk itu, Jokowi juga tidak perlu berlebihan merespon kritik tersebut.

“Jika pemerintahan dianggap sukses, maka rakyat akan dengan sendirinya puas dengan rezim dan memberikan kesempatan dan dukungan untuk kembali memimpin,” tukasnya.

(one/pojoksatu)





Sumber: Pojok Satu
loading...