http://bacaberita.info/
HOME I NASIONAL I INTERNASIONAL I EKONOMI I OLAHRAGA I HIBURAN I IPTEK I INDEKS

Lagi, Perang Dagang 'Bakar' Bursa Saham Asia

Options
Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas bursa saham utama kawasan Asia mengakhiri perdagangan hari ini, Selasa (14/5/2019), di zona merah: indeks Nikkei turun 0,59%, indeks Shanghai turun 0,69%, indeks Hang Seng turun 1,5%, dan indeks Straits Times turun 0,33%.

Perang dagang AS-China kembali sukses memicu aksi jual di bursa saham Benua Kuning. Kemarin, Senin (13/5/2019), China mengumumkan balasannya atas pengenaan bea masuk tambahan yang dieksekusi AS menjelang akhir pekan.


Seperti diketahui, pada hari Jumat (10/5/2019) AS resmi menaikkan bea masuk atas importasi produk-produk asal China senilai US$ 200 miliar, dari 10% menjadi 25%.

Kementerian Keuangan China mengumumkan bahwa bea masuk bagi importasi produk asal AS senilai US$ 60 miliar akan dinaikkan menjadi 20 dan 25%, dari yang sebelumnya berada di level 5% dan 10%. Barang-barang agrikultur menjadi sasaran dari pemerintah China.

Ketika berlaku pada tanggal 1 Juni, importir asal China akan membayar bea masuk yang lebih tinggi ketika mendatangkan produk agrikultur seperti kacang tanah, gula, gandum, ayam dan kalkun dari Negeri Paman Sam.

AS pun dibuat gerah oleh langkah China tersebut. Kini, AS telah memulai proses yang diperlukan untuk mengenakan bea masuk bagi importasi produk China senilai US$ 300 miliar yang hingga kini belum terdampak oleh perang dagang. Kantor Perwakilan Dagang AS pada hari Senin diketahui sudah menerbitkan proposal yang diperlukan untuk mengeksekusi kenaikan bea masuk tersebut.


Dalam proposal tersebut, Kantor Perwakilan Dagang AS menjabarkan potensi pengenaan bea masuk hingga 25% bagi produk-produk impor China senilai kurang lebih US$ 300 miliar. Selanjutnya, akan digelar dengar pendapat pada tanggal 17 Juni yang kemudian akan diikuti oleh proses diskusi selama setidaknya seminggu.

Sejatinya, ada perkembangan positif terkait perang dagang AS-China yakni Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi bahwa dirinya akan bertemu dengan Presiden China Xi Jinping di sela-sela KTT G-20 pada akhir bulan depan di Jepang.

Sekadar mengingatkan, kali terakhir Trump bertemu dengan Xi adalah juga di sela-sela KTT G-20, yakni pada bulan Desember lalu di Argentina. Hasilnya, kedua negara menyepakati gencatan senjata selama 3 bulan di mana keduanya tak akan mengerek bea masuk untuk importasi produk dari masing-masing negara.

Gencatan senjata ini kemudian diperpanjang oleh Trump seiring dengan perkembangan negosiasi dagang yang positif.


Namun tetap saja, perang dagang antar kedua negara sudah tereskalasi. AS sudah resmi menaikkan bea masuk atas importasi produk asal China senilai US$ 200 miliar, sementara kebijakan balasan dari China sudah diumumkan dan tak lama lagi akan berlaku. Ke depannya, eskalasinya bisa bertambah parah lagi.

Dengan balas-membalas bea masuk antara AS dan China yang sudah bertambah parah dan bisa menjadi semakin kronis ke depannya, perekonomian dunia dihadapkan pada sebuah tantangan yang begitu besar. Dalam kondisi seperti ini, tentu instrumen berisiko seperti saham bukanlah pilihan utama.

TIM RISET CNBC INDONESIA

(ank/prm)



Sumber: CNBCIndonesia.com
loading...