http://bacaberita.info/
HOME I NASIONAL I INTERNASIONAL I EKONOMI I OLAHRAGA I HIBURAN I IPTEK I INDEKS

Penjualan Ritel AS Stagnan, Daya Beli Melemah?

Options
Pengusaha ritel pakaian di AS terus berjuang menghadapi penurunan lalu lintas di mal

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON – Kekhawatiran terhadap ekonomi Amerika Serikat (AS) yang tumbuh dengan kecepatan moderat semakin tinggi. Sebab, pengeluaran konsumen AS terlihat mengalami perlambatan lebih lanjut pada Januari.

Tren ini berkaca dari penurunan penjualan di toko-toko pakaian yang mengalami laju tercepat sejak 2009. Prospek ekonoi AS juga diredup oleh data lain yang dikutip di Reuters, Jumat (14/2).

Data tersebut adalah produksi industri menurun selama dua bulan berturut-turut. Laporan mendorong para ekonom untuk menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi mereka pada kuartal pertama ini.

Para ekonom diketahui masih optimistis dengan ekonomi AS. Mereka senada dengan pernyataan Ketua Federal Reserve Jerome Powell kepada anggota parlemen pada pekan ini. “Ekonomi berada dalam situasi sangat baik, kinerjanya baik,” tuturnya.

Bank sentral AS pada bulan lalu memutuskan mempertahankan suku bunga. The Fed diperkirakan akan menahan kebijakan moneter pada tahun ini, setelah mengurangi biaya pinjaman sebanyak tiga kali pada 2019.

Penjualan ritel, kecuali mobil, bensin, bahan bangunan dan pelayanan makanan, masih stagnan pada bulan lalu. Pertumbuhannya hanya 0,2 persen, sama seperti kondisi Desember. Tapi, apabila memasukkan seluruh komponen, ritel AS naik tipis, 0,3 persen.

Pembelian mobil mendorong tingkat penjualan ritel. Pertumbuhannya rebound 0,2 persen setelah kontraksi 1,7 persen pada Desember. Penjualan di toko elektronik dan peralatan menurun 0,5 persen.

Sementara itu, penjualan di toko bahan bangunan melonjak 2,1 persen, terbesar sejak Agustus lalu. Cuaca yang lebih sejuk dibandingkan biasanya diperkirakan membantu peningkatan di sektor konstruksi.

Di sisi lain, tingkat penjualan di toko pakaian merosot 3,1 persen pada Januari. Kontraksi ini terdalam sejak Maret 2009. Para pengusaha retail pakaian kini terus berjuang menghadapi penurunan lalu lintas di mal karena banyak konsumen memilih belanja online.

Toko serba ada (Toserba) di AS, Macy’s bahkan berencana menutup 125 gerai yang paling tidak produktif selama tiga tahun ke depan. Mereka juga memangkas lebih dari 2.000 pekerja.

Kondisi tersebut patut diwaspadai. Pasalnya, pengeluaran konsumen menyumbang lebih dari dua pertiga aktivitas ekonomi AS.

Di sisi lain, penjualan eceran online naik 0,3 persen, membaik setelah sempat kontraksi 0,1 persen pada Desember. Penerimaan di toko furniture naik 0,6 persen.

Orang AS sepertinya banyak menghabiskan uang di restoran dan bar karena penjualan mereka meningkat 1,2 persen. Tapi, masyarakat mengurangi pengeluaran di toko kesehatan dan perawatan pribadi.

Dengan investasi bisnis yang tumbuh terbata-bata dan manufaktur masih perlu berjuang untuk ekspansi, pertumbuhan belanja konsumen perlu dijaga oleh AS. Khususnya untuk menjaga rekor ekspansi ekonomi terpanjang, yang sekarang berada di tahun ke-11, tetap berjalan.

Dalam laporan terpisah, The Fed mengatakan, produksi industri turun 0,3 persen pada Januari, setelah turun 0,4 persen pada Desember. Output industri pun turun akibat penurunan produksi utulitas 4,0 persen. Penurunan 7,4 persen dalam produksi aerospace dan peralatan transportasi lain juga membebani output industri Januari.



Sumber: Republika.co.id
loading...