http://bacaberita.info/
HOME I NASIONAL I INTERNASIONAL I EKONOMI I OLAHRAGA I HIBURAN I IPTEK I INDEKS

Polisi Pastikan Taruna ATKP Makassar Dianiaya Seniornya, Ini Identitasnya

Options

POJOKSATU.id, MAKASSAR – Hidup Aldama Putra Pongkala (19) berakhir tragis di kampus Akademi Teknik Keselamatan Penerbangan (ATKP) Makassar. Taruna tingkat I itu tewas setelah dianiaya oleh seniornya di kampus.

Demikian disampaikan Kapolrestabes Makassar Kombes Dwi Ariwibowo kepada awak media, Selasa (5/2/2019).

Polisi sendiri telah memeriksa 22 saksi terkait tewasnya putra semata wayang anggota TNI AU Peltu Daniel Pongkala itu.

Hasilnya, polisi akhirnya menetapkan senior Aldama, Muhammad Rusdi (21) sebagai tersangka alias pelaku.

“Kita sudah tetapkan sebagai tersangka,” kata Dwi.

Dwi menerangkan, motif tersangka sendiri diketahui tidak ada dendam.

“Enggak ada dendam. Tapi karena korban dinilai melakukan pelanggaran,” terangnya.

Kendati demikian, pihaknya mengindikasikan tersangka bisa saja bertambah di kemudian hari.

“Saya sudah periksa 22 saksi, pemeriksaan maraton pagi sampai malam. Untuk sementara satu tersangka inisial MR. Itu sementara,” paparnya.

Atas perbuatannya itu, pelaku dijerat dengan Pasal 338 KUHP dan atau 351 ayat (3) KUHPidana dengan ancaman hukuman 5 tahun dan maksimal 15 tahun penjara.

Terpisah, Ayah Aldama Putra (19), Peltu TNI AU Daniel Pongkala, tak menyangka putra semata wayangnya bernasib tragis di kampus Akademi Teknik Keselamatan Penerbangan (ATKP) Makassar.

Daniel mengaku, kabar pertama kali yang didapatnya sama sekali tak menyebutkan bahwa anaknya itu telah meninggal dunia.

Saat itu, ia beritahu oleh salah seorang pengasuh ATKP Makassar bahwa Aldama berada tengah dirawat di Rumah Sakit (RS) Sayang Rakyat, Bringkanaya, Kota Makassar.

“Saya ditelepon Minggu (3/2) malam disuruh ke rumah sakit,” bebernya seperti dikutip PojokSatu.id dari PojokSulsel.com, Selasa (5/2/2019).

Saat itu, lanjut Daniel, ia tak diberitahu bahwa putranya itu telah meninggal dunia.

“Jadi saya menuju ke sana (rumah sakit). Di perjalanan saya pikir anak saya hanya luka atau patah tulang,” lanjut Daniel.

Sesampainya di RS Sayang Rakyat, Daniel mengaku langsung dipeluk oleh pengasuh dan diberitahukan bahwa anak satu-satunya tersebut sudah meninggal dunia karena jatuh di kamar mandi.

“Setelah mendapatkan kabar tersebut saya langsung menuju kamar jenazah untuk melihat kondisi anak saya,” ungkapnya.

Saat itu, Daniel diberitahu bahwa putranya itu meninggal karena jatuh di kamar mandi. Akan tetapi, ia mendapati sejumlah kejanggalan di tubuh jenasah anaknya itu.

Karena itu, ia pun tak mempercayai informasi yang didapatnya dari pengasuh ATKP Makassar.

“Saya periksa semua badannya. Ada luka-luka di kepalanya, jidatnya, sama memar di perut dan tangannya,” terangnya.

Atas dasar itu pula, Daniel berkesimpulan bahwa anaknya meninggal bukan lantaran jatuh di kamar mandi, melainkan disebabkan penganiayaan.

“Saya berfikir tidak wajar kematian anak saya. Tapi pihak ATKP mengatakan anak saya jatuh di kamar mandi,” ungkapnya.

Terpisah, Pembantu Direktur (Pudir) ATKP, Irfan saat dikonfirmasi membenarkan kabar meninggalnya salah satu tarunanya ATKP tingkat satu itu.

“Iya benar ada taruna tingkat satu yang meninggal di kampus,” katanya.

(ruh/pojoksatu)



Sumber: Pojok Satu
loading...