http://bacaberita.info/
HOME I NASIONAL I INTERNASIONAL I EKONOMI I OLAHRAGA I HIBURAN I IPTEK I INDEKS

Ramai ‘Cak Jancuk’ untuk Jokowi, Ini Asal Kata ‘Jancuk’, Ternyata Ada 6 Versi, Salah Satunya ML

Options

POJOKSATU.id, JAKARTA – Kata ‘Jancuk’ tiba-tiba ramai diperbincangkan publik setelah Joko Widodo (Jokowi) mendapat sebutan ‘Cak Jancuk’.

‘Gelar’ baru calon presiden nomor urut 01 itu didapatnya saat deklarasi dukungan Forum Alumni Jawa Timur.

Banyak yang menganggap, ‘Jancuk’ sebagai kata makian khas Surabaya dan populer di gunakan merata di Jatim.

Tapi dari mana asal muasal frase tersebut? Apakah benar makian dan selalu bermakna negatif?

Berdasarkan penelusuran PojokSatu.id, ternyata ada enam versi yang disebut-sebut menjadi asal muasal lahirnya ‘Jancuk’, ‘Jancok’ atau ‘Dancuk’.

Lima versi itupun bermacam-macam. Sayangnya, belum ada pihak manampun yang bisa memastikannya.

Berikut enam versi asal kata ‘Jancuk’:

1. Versi kedatangan Arab
Salah satu versi asal-mula kata Jancuk, Jancok atau Dancuk disebut-sebut berasal dari kata Da’Suk. Da’ diartikan sebagai ‘meninggalkanlah kamu’, dan assyu’a artinya ‘kejelekan’. Kedua kata tersebut kemudin digabungmenjadi Da’Suk diartikan sebagai ‘tinggalkanlah keburukan’. Saat dilafalkan dengan logat Suroboyo, kosakata itu menjadi ‘Jancok’.

2. Versi penjajahan Belanda
Salah seorang anggota Cagar Budaya Surabaya, istilah kata tersebut diduga berasal dari bahasa Belanda ‘yantye ook’ yang memiliki arti ‘kamu juga’. Istilah tersebut popular di kalangan Indo-Belanda sekitar tahun 1930-an yang dalam perkembangannya diplesetkan oleh para remaja Surabaya untuk mencemooh warga Belanda atau keturunan Belanda dan mengejanya menjadi ‘yanty ok’ dan terdengar seperti ‘yantcook’. Seiring perjalanan waktu, kata tersebut dilafalkan sebagai Jancuk, Jancok atau Dancok.

3. Versi tank Belanda
Pada zaman penjajahan di Surabaya dulu, tentara Belanda kerap menggunakan tank untuk meredam perlawanan Arek-arek Suroboyo. Dalam setiap pertempuran, tank itu menjadi andalan Belanda. Di salah satu foto sejarah, terdapat satu foto yang cukup meyita perhatian. Pasalnya, ada tulisn ‘Jan Cox’ di tank tersebut. Jan Cok sendiri merujuk nama seorang pelukis kelahiran Den Haag, Belanda. Disebutkan pula, para pejuang kemerdekaan di Surabaya, kerap meneriakkan ‘Jan Cox’ jika tank itu datang dalam sebuah pertemupuran. Tujuannya, tidak lain untuk mengingatkan kepada pejuang lain dan masyarakat untuk ekstra waspada.

Tank Belanda di Surabaya bertuliskan 'Jan Cox' yang disebut menjadi asal usul 'Jancok',, Jancuk' atau Dancok'. Foto net

Tank Belanda di Surabaya bertuliskan ‘Jan Cox’ yang disebut menjadi asal usul ‘Jancok’,, Jancuk’ atau Dancok’. Foto net

4. Versi penjajahan Jepang
Kata ini berasal dari kata ‘Sudanco’ berasal dari zaman romusha yang artinya ‘Ayo Cepat’. Karena kekesalan pemuda Surabaya pada saat itu, kata perintah tersebut diplesetkan menjadi ‘Dancok’. Kini, kata itu menjadi cukup bervariatif. Selain Dancok, juga kerap diucapkan dengan Jancuk atau Jancok.

5. Versi umpatan
Warga salah satu Kampung di Surabaya, Palemahan, disebutkan memiliki kebiasaan melontarkan kata ini yang merupakan akronim dari ‘Marijan ngencuk’ yang bisa diartikan sebagai ‘Marijan berhubungan badan’. ‘Encuk’ merupakan bahasa Jawa yang memiliki arti ‘berhubungan badan’ di luar nikah. Versi lain menyebutkan bahwa ‘Jancuk’ berasal dari kata kerja ‘diencuk’. Kata tersebut akhirnya berubah menjadi Dancuk, Jancuk atau Jancok.

6. Versi Penelitian Jaseters
Menurut badan penelitian Jaseters, Kata Jancok merupakan suatu ungkapan kekecewaan yang merupakan sebuah gabungan kosakata berbahasa jawa. ‘Jan’ yang berarti ‘teramat sangat’ atau ‘benar-benar’. Sedangkan ‘Cak’ berarti ‘kakak atau senior’. Jika digabungkan, bisa diartikan: kakak (kamu) sangat kelewatan. Namun karena tidak ingin
menyakiti hati senior tersebut, maka dirubahlah ‘Cak’ menjadi ‘Cok’.

Di sisi lain, bagi masyarkat Jawa Timur, khusunya Surabaya, ‘Jancuk’, ‘Jancok’ atau Dancok sudah mejadi frase yang lazim dipakai dan multi makna bergantung konteks, intonasi dan cara penyampaiannya.

Budayawan Jawa Timur yang mendeklarasikan diri sebagai Presiden Jacukers, Sudjiwo Tedjo, dalam bukunya pun pernah membahas masalah ini.

Menurutnya, ‘Jancuk’, ibarat sebilah pisau yang sangat tergantung dari user-nya dan suasana psikologis si user.

Ia menyampaikan, jika kata tersebut diucapkan dengan niat tak tulus, penuh amarah, dan penuh dendam maka akan dapat menyakiti.

Tetapi bila diucapkan dengan kehendak untuk akrab, kehendak untuk hangat sekaligus cair dalam menggalang pergaulan, ‘Jancuk’ laksana pisau bagi orang yang sedang memasak.

‘Jancuk’ dapat mengolah bahan-bahan menjadi jamuan pengantar perbincangan dan tawa-tiwi di meja makan.

Di kalangan para pemuda Surabaya, atau Jatim, kata itu  juga merupakan simbol keakraban. Simbol kehangatan. Simbol kesantaian.

Bahkan, sampai ada adagium yang berlaku bahwa sebuah pertemanan tak akan bisa disebut akrab dan dekat jika dalam setiap pembicaraan tak diselingi dengan kata tersebut.

(ruh/pojoksatu)



Sumber: Pojok Satu
loading...