http://bacaberita.info/
HOME I NASIONAL I INTERNASIONAL I EKONOMI I OLAHRAGA I HIBURAN I IPTEK I INDEKS

Rencana Serangan Bom di Sri Lanka Sudah Diketahui Sebelumnya?

Options
Jakarta, CNBC Indonesia - Lebih dari 200 orang tewas dan sedikitnya 450 lainnya terluka dalam delapan ledakan bom yang terjadi di Kolombo, Sri Lanka, saat perayaan Paskah, Minggu (21/4/2019).

Sejauh ini belum ada pihak yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan terburuk sejak perang sipil berakhir di negara itu 10 tahun lalu.

Sri Lanka sebelumnya mengalami perang selama beberapa dekade dengan kelompok separatis Tamil hingga berakhir pada 2009 lalu. Dalam periode kelam tersebut, ledakan bom di ibu kota adalah sesuatu yang sering terjadi.


Perdana Menteri Ranil Wickremesinghe mengakui pemerintah mendapat beberapa informasi sebelum serangan itu terjadi. Namun, para menteri tidak diinformasikan.


Ia mengatakan tidak ada respons yang cukup atas informasi tersebut dan menambahkan perlu diadakannya penyelidikan untuk mengetahui bagaimana informasi penting itu digunakan.

Ia juga mengatakan pemerintah perlu untuk menyelidiki jaringan internasional dari kelompok militan dalam negeri, dilansir dari Reuters.

AFP melaporkan telah membaca sejumlah dokumen yang menunjukkan bahwa kepala polisi Sri Lanka Pujuth Jayasundra mengeluarkan peringatan intelijen kepada para pejabat tinggi 10 hari lalu. Ia memperingatkan bahwa beberapa pengebom bunuh diri berencana menyerang gereja-gereja besar.

Ia mengutip informasi intelijen asing bahwa kelompok Islam yang tidak dikenal sedang merencanakan serangan itu, tulis AFP yang dikutip Reuters.

Seorang juru bicara kepolisian Sri Lanka mengatakan ia tidak mengetahui laporan intelijen tersebut.

Serangan Bom di Sri Lanka Sudah Diketahui Sebelumnya?Foto: Gambar yang diambil oleh tim Reuters TV dari Derana TV terlihat Puing-puing di gereja St Anthony setelah ledakan menghantam gereja dan hotel di Kolombo, Sri Lanka. (Reuters)

Kelompok-kelompok Kristen di negara itu mengatakan mereka mengalami intimidasi yang semakin banyak dari beberapa biksu Buddha berpaham ekstrem dalam beberapa tahun terakhir.

Tahun lalu, terjadi beberapa bentrokan antara komunitas mayoritas Buddha Sinhalese dan kelompok minoritas Muslim. Beberapa kelompok ekstrem Buddha menuduh umat Muslim memaksa orang-orang berpindah agama Islam.

Tahun lalu, ada 86 insiden diskriminasi yang terverifikasi, ancaman, dan kekerasan terhadap masyarakat Kristen, menurut Aliansi Kristen Evangelical Nasional Sri Lanka yang mewakili lebih dari 200 gereja dan organisasi Kristen lainnya.


Tahun ini, organisasi tersebut mencatat ada 26 insiden serupa.

Dari sekitar 22 juta populasi Sri Lanka, 70% di antaranya adalah penganut Buddha sementara 12,6% Hindu, 9,7% Muslim, dan 7,6% Kristen, menurut sensus tahun 2012. (prm)



Sumber: CNBCIndonesia.com
loading...