http://bacaberita.info/
HOME I NASIONAL I INTERNASIONAL I EKONOMI I OLAHRAGA I HIBURAN I IPTEK I INDEKS

Sepak bola yang memasyarakat dan krisis pemain

Options

Denpasar (ANTARA News) - Permainan sepak bola sudah memasyarakat sejak zaman dahulu, karena cabang olahraga tersebut menjadi favorit di Tanah Air bahkan di seluruh dunia, namun keberadaannya untuk mencari atlet di Indonesia yang andal justru relatif sulit.

Padahal cabang sepak bola ini adalah sebuah permainan yang sangat disenangi warga, mulai anak-anak hingga dewasa. Bahkan, jika bertanya kepada anak-anak, permainan apa yang digemari, jawabannya pasti sepak bola. Karena dari permainannya cukup seru dan menjadi perhatian semua orang, mulai dari masyarakat pedesaan hingga perkotaan.

Melihat dari perjalanan permainan sepak bola, anak laki-laki di kampung desa hampir semua bisa bermain bola ini. Karena dari latar belakang olahraga ini menjadi sebuah persahabatan. Bahkan bila anak-anak di kampung bermain bola tidak harus mencari lapangan yang luas. Bisa saja setelah di sawah usai panen, mereka bermain bola di sana.

Begitu menariknya cabang olahraga sepak bola, sehingga jika bertanya dengan anak-anak dan orang remaja mereka bercita-cita ingin menjadi pemain sepak bola andal dan masuk klub sepak bola ternama.

Di tengah kemajuan teknologi, dengan semakin banyaknya stasiun televisi yang menyiarkan olahraga, khususnya sepakbola, maka masyarakat pasti akan tertarik untuk menyaksikan olahraga itu. Masyarakat pun masing-masing mempunyai fans dalam klub sepak bola.

Contohnya, dalam pertandingan sepak bola Piala Dunia. Masyarakat seantero dunia pun sukarela memasang bendera dan memakai baju klub yang mereka senangi dan dianggap menjadi favorit. Begitu juga saat pertandingan sepak bola berlangsung bagi pengemar olahraga yang satu ini ada yang langsung datang ke arena tempat pertandingan, namun juga ada menyaksikan lewat layar kaca (televisi) itu.

Masyarakat di Indonesia juga saat ada pertandingan sepak bola, seperti piala Liga Indonesia, yang bertanding hampir sepanjang tahun juga menjadi kegemaran masyarakat. Hal tersebut terbukti masing-masing klub memiliki pengemar setia, bahkan setiap pertandingan akan berbondong-bondong menyaksikan klub kesayangannya.

Hal itu pun diakui oleh mantan kepala pelatih Bali United Widodo Cahyono Putro, bahwa cabang olahraga sepak bola menjadi cabang olahraga paling disukai di seluruh dunia. Dengan menjadi sepak bola terfavorit di antara cabang olahraga itu, maka setiap pertandingan akan berbondong-bondong warga datang ke stadion menyaksikan pertandingan tersebut.

"Sepak bola memang cabang paling favorit di Indonesia, bahkan dunia. Anda bisa saksikan setiap pertandingan sepak bola pasti ramai penontonnya. Itu menandakan bahwa sepak bola menjadi olahraga memasyarakat," ucap pria asal Jawa Timur ini.

Namun di satu sisi, kata dia, untuk mencari pemain andal di Indonesia, boleh dibilang sulit. Sebab klub-klub di Indonesia pasti mendatangkan pemain asing. Hal inilah menjadi tantangan bangsa Indonesia ke depan dalam dunia olahraga harus mampu menyiapkan sumber daya manusia untuk menjaring bibit-bibit pesepak bola.

Pembinaan holistik

Humas Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Denpasar, Dewa Gede Rai mengatakan pemilihan pemain sepak bola adalah satu dari banyak hal yang masih menjadi pekerjaan rumah sepak bola di Tanah Air.

Ia mengatakan tantangan awal Indonesia setelah bangun dari tidur persepakbolaan di Tanah Air masih berlanjut dengan pembenahan-pembenahan lain.

"Jadi perlu ada pembinaan dari bawah untuk mendapatkan bibit-bibit atlet sepak bola yang andal. Namun, sayangnya, masih banyak kendala yang dihadapi ditengah masyarakat," ucapnya.

Oleh karena itu, kata dia, untuk menjaring bibit-bibit sepak bola, mulai dari formal adalah dengan menggencarkan ekstra kulikuler di sekolah-sekolah pada cabang olahraga tersebut. Dengan langkah itu akan dapat melihat bibit-bibit atlet yang kemampuannya di olahraga sepak bola.

Menurut dia, kelemahan yang terjadi adalah dalam pembinaan cabang olahraga tersebut. Walau di sekolah ada ekstra kulikuler sepak bola, namun itu hanya sebatas untuk memenuhi persyaratan dan mencari nilai. Sebab ketika ada bakat ke sana (sepak bola) mereka akan terkendala dalam klub selanjutnya.

Selain itu juga, klub-klub sepak bola yang ada saat ini harus lebih sering melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah yang memiliki ekstra kulikuler olahraga tersebut. Selain itu pihak sekolah ataupun klub-klub sepak bola juga secara berjenjang melakukan kejuaraan.

Sehingga dengan demikian, Dewa Rai yang juga mantan pemain sepak bola itu mengatakan dengan seringnya ada kejuaraan maka akan dapat mengukur dan melihat potensi bibit sepak bola di masing-masing sekolah atau klub yang ikut kejuaraan itu.

"Jadi, dengan demikian akan dapat menyeleksi dan mengumpulkan pemain yang mempunyai potensi tinggi pada cabang sepak bola untuk dirangkul dalam satu klub. Yang saya amati, hal tersebut belum ada dilakukan secara maksimal terkait pertandingan antarklub sepak bola junior. Contohnya, di Bali hampir dalam setahun bisa dihitung dengan jari tangan ada kejuaraan sepak bola junior," katanya.

Dewa Rai juga mengharapkan uluran tangan kepada cabang olahraga sepak bola harus lebih gencar dan ada pembinaan secara berkelanjutan, sehingga kesiapan untuk pemain sepak bola yang akan dikirim dalam tim nasional di masing-masing daerah lebih banyak.

Ia mengatakan bangsa Indonesia yang berpenduduk mencapai 250 juta lebih, untuk mencari bibit-bibit sepak bola yang andal masih terbuka. Namun, yang diperlukan adalah keseriusan semua pihak dan dukungan dana dari pemerintah juga sangat penting untuk kemajuan sepak bola.

Dewa Rai mengamati, melambungnya sepak bola di Indonesia justru dibangun oleh pihak swasta, terbukti dimasing-masing daerah ada klub sepak bola yang menjadi favorit daerah tersebut. Contohnya di Bali, klub sepak bola "Bali Unted FC".

Klub sepak bola ini menjadi kebanggaan masyarakat Bali, bahkan mempunyai pengemar mencapai puluhan ribu orang. Terbukti setiap pertandingan di Stadion Kapten Wayan Dipta di Kabupaten Gianyar dipenuhi penonton sekitar 11 ribu hingga 14 ribu penonton. Itu pun hampir setengah lebih adalah penonton fanatik Bali United dengan julukan "Laskar Tridatu".

Dengan kenyataan itu, kata Dewa Rai, membuktikan semua daerah haus adanya klub-klub sepak bola yang menaikkan pamor daerahnya dalam dunia olahraga sepak bola.

Siapa yang harus memulai untuk menata sepak bola Indonesia secara holistik? Salah satunya dan yang utama adalah Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI). Karena PSSI adalah sebagai induk organisasi sepak bola nasional, PSSI bertugas dan bertanggung jawab untuk mengatur jalannya sepak bola di Indonesia.*

Baca juga: Mengembangkan potensi pesepakbola usia muda

Baca juga: Kemenpora langsung koordinasi internal sikapi Inpres Percepatan Persepakbolaan Nasional

Pewarta: I Komang Suparta
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019



Sumber: Antaranews.com
loading...