http://bacaberita.info/
HOME I NASIONAL I INTERNASIONAL I EKONOMI I OLAHRAGA I HIBURAN I IPTEK I INDEKS

Waspada! Harga Emas Hari Ini Rentan Koreksi, Ambil Untung?

Options
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dunia melanjutkan penguatan perdagangan Selasa (13/8/19). Kekhawatiran para pemilik modal akan terjadinya perlambatan ekonomi global dan resesi di Amerika Serikat (AS) semakin memuncak.

Pada perdagangan tengah hari kemarin, harga emas dunia sudah tembus US$ 1.519,75/troy ons pada pukul 12:50 WIB, melansir data investing.com.


Grafik: Emas (XAU/USD) Harian
Sumber: investing.com

Sercara teknikal, jika melihat grafik harian harga emas masih bergerak di atas rerata pergerakan (Moving Average/MA) MA 8 hari (garis biru), dan MA 21 hari (garis merah), dan atas MA 125 hari (garis hijau).

Indikator rerata pergerakan konvergen divergen (MACD) di wilayah positif dan bergerak naik, histogram juga di area positif. Indikator ini memberikan gambaran peluang penguatan emas dalam jangka menengah.


Grafik: Emas (XAU/USD) 1 Jam
Sumber: investing.com

Pada time frame 1 jam, emas bergerak di atas MA 8, dan MA 21 namun masih di atas MA 125. Indikator stochastic bergerak naik dan berada di wilayah jenuh beli (overbought). Indikator terakhir tersebut membuka peluang koreksi harga emas emas.

Resisten terdekat berada di kisaran US$ 1.521, selama tertahan di bawah level tersebut, emas berpotensi turun ke area US$ 1.515. Penembusan di bawah level tersebut akan membuka peluang penurunan ke area US$ 1.508.

Selama tidak menembus ke bawah US$ 1.508, logam mulai masih berpotensi kembali menguat, apalagi jika mampu bertahan di atas US$ 1.515. Penembusan ke atas resisten US$ 1.521 akan membawa emas ke resisten kuat US$ 1.526. Jika mampu menembus resisten kuat tersebut, emas akan terbang lebih tinggi lagi.


Selain faktor teknikal, sentimen lain yang mempengaruhi harga logam mulia ini adalah kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi dunia yang semakin nyata.

Sejumlah sentimen negatif menghantui pelaku ekonomi, mulai dari perang dagang plus bumbu potensi currency war (perang mata uang), kebijakan moneter longgar dari banyak bank sentral dunia, dan adanya kerusuhan di Hong Kong, yang merupakan salah satu hub finansial global.

Faktanya para ekonom, pelaku pasar, pengusaha dan pejabat pemerintahan kini semakin pesimistis perang dagang antara AS dengan China akan segera berakhir. Efeknya perekonomian global akan semakin melambat, dan ancaman resesi semakin nyata.


Bahkan Goldman Sachs sudah sangat pesimistis akan terjadikesepakatan dagang antara dua ekonomi terbesar dunia itu terjadi sebelum pemilihan presiden AS tahun 2020 nanti. Bahkan lembaga keuangan asal AS ini memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Paman Sam untuk kuartal IV-2019 menjadi 1,8% dari sebelumnya 2,0%.

Sementara itu, bank sentral China (People's Bank of China/PBoC) kembali mendepresiasi nilai tukar yuan terhadap dolar AS pada hari ini. Langkah dari PBoC tersebut dikhawatirkan akan membuat AS ikut melemahkan dolar, dan currency war akan segera dimulai.

PBoC menetapkan nilai tengah yuan di level 7,0362/US$ lebih lemah dari kemarin 7,0136/US$. Penasehat perdagangan Presiden Trump, Peter Navaro, pada Jumat (9/8/19) lalu mengatakan AS akan mengambil tindakan keras jika Beijing terus mendepresiasi mata uangnya.

"Jelas, mereka (China) memanipulasi mata uangnya dari sudut pandang perdagangan" kata Navaro dalam acara Closing Bell CNBC International pada Jumat lalu. "Jika mereka terus melakukannya, kita (AS) akan mengambil tindakan keras pada mereka" tegas Navaro.


Jika perang mata uang terjadi, ancaman resesi akan semakin menjadi nyata. Kondisi ketidakpastian global yang sangat tinggi membuat bank sentral AS akan kembali agresif dalam memangkas suku bunga di tahun ini.

Data piranti FedWatch milik CME Group menunjukkan probabilitas suku bunga The Fed 1,25%-1,5% di bulan Desember sebesar 42%, menjadi yang tertinggi dibandingkan probabilitas level lainnya. Persentase tersebut tidak terlalu jauh dengan probabilitas suku bunga sebesar 1,5%-1,75% sebesar 40,5%.

Data tersebut menunjukkan pelaku pasar melihat The Fed akan memangkas suku bunga setidaknya dua kali lagi tahun ini. Pemangkasan suku bunga paling cepat akan dilakukan pada September sebesar 25 basis poin menjadi 2%-2,25% dengan probabilitas sebesar 81,2%, berdasarkan peranti FedWatch siang ini.

Emas merupakan aset tanpa imbal hasil, juga aset lindung nilai terhadap inflasi sehingga penurunan suku bunga oleh The Fed akan menguntungkan bagi emas karena opportunity cost yang berkurang.

Pada pekan lalu ada empat bank sentral yang memangkas suku bunga acuannya, tiga diantaranya lebih besar dari prediksi pelaku pasar. Kebijakan bank sentral di berbagai negara tersebut menunjukkan perekonomian global sedang mengalami pelambatan yang serius.

Kontrak Berjangka Emas di RI Meningkat
[Gambas:Video CNBC]

Bank sentral melonggarkan kebijakan moneter guna menambah likuiditas di pasar. Harapannya saat likuiditas bertambah, roda perekonomian bergerak lebih kencang, rata-rata upah meningkat, belanja konsumen naik, dan pada akhirnya inflasi terkerek naik.

Ketika ada ekspektasi percepatan laju inflasi, emas tentunya mendapat angin segar. Jumlahnya yang terbatas membuat emas menjadi instrumen lindung inflasi yang sempurna. (hps)



Sumber: CNBCIndonesia.com
loading...